Hubungan Tingkat Pengetahuan Petugas Pengelola Obat dengan Tingkat Ketersediaan Obat Di Puskesmas Kota Malang

Machrozi Alfian

Abstract


Pengelolaan obat merupakan kegiatan mengelola sediaan farmasi untuk menjamin keamanan produk, dan terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia. Indikator yang dapat digunakan salah satunya adalah tingkat ketersediaan obat. Tingkat ketersediaan obat merupakan nilai persentase jumlah obat yang diperlukan di puskesmas harus sesuai dengan keperluan masyarakat sehingga jumlah obat di gudang puskesmas minimal harus sama dengan jumlah stok selama waktu tunggu kedatangan obat. Petugas pengelola obat harus memiliki pengetahuan tentang pengelolaan obat di puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan petugas pengelola obat dengan tingkat ketersediaan obat di beberapa Puskesmas Kota Malang. Penelitian yang dilakukan merupakan observasional analitik cross sectional. Teknik pengambilan sampel responden adalah dengan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan petugas pengelola obat dan lembar pengumpul data tingkat ketersediaan yang dilihat dari data LPLPO. Hasil rata-rata persentase pengetahuan 10 petugas adalah 84,32%, yang termasuk dalam kategori baik. Hasil rata-rata persentase tingkat ketersediaan obat adalah 64,19%. Kategorisasi persentase tingkat ketersediaan obat terdiri dari sebanyak 10% dengan kategori baik, 70% dengan kategori cukup, dan 20% dengan kategori kurang. Hasil uji statistik korelasi dengan Uji Rank Spearman menunjukkan nilai Spearman Correlation adalah -0.034 (p=0.870), menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan petugas pengelola obat dengan tingkat ketersediaan obat di puskesmas Kota Malang.


Keywords


Puskesmas; Pengelolaan Obat; Pengetahuan; Tingkat Ketersediaan

Full Text:

PDF

References


Bappenas. (2009). Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Kesehatan yang Berkualitas.

Djuna, S., Arifin, M.A. & Darmawansyah, 2014.Studi Manajemen Pengelolaan Obat di Puskesmas Labakkang Kabupaten Pangkep.

Mangindara et al., 2012. Analisis Pengelolaan Obat Di Puskesmas Kampala Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai Tahun 2011. Jurnal AKK, 1(1), pp.31 40.

Phau, Ian. dan Baird, Michael. (2008). Complainers versus non-complainers retaliatory responses towards service dissatisfactions. Marketing Intelligence & Planning, 26 (6), hlm. 587-604.

Notoatmodjo, S. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Aryani, Alyxia Fatma., Kusuma, Anjar Mahardian., Galistiani, Githa Fungie. 2016. Hubungan Tingkat Pengetahuan Pengelola Obat terhadap Pengelolaan Obat di Puskesmas. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi. Volume 6 Nomor 4 – Desember 2016. Purwokerto: Fakultas Farmasi Universitas Muhamadiyah Purwokerto.

Astutik RY. dan Ertiana D. 2018. Anemia Dalam Kehamilan. Edisi 1, Pustaka Abadi, Jember.

Kementerian kesehatan RI dan JICA (Japan International Cooperation Agency). 2010. Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian Di Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Kementerian Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.l

Kementerian Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.




DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.pji.2020.006.01.5

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Pharmaceutical Journal of Indonesia

License URL: https://creativecommons.org/choose/results-one?license_code=by&jurisdiction=&version=4.0&lang=en